Archive for September, 2015

Feel Alone

Jam segini sudah laper lagi.
Hari ini memang energi terkuras banyak.
Disuruh ini disuruh itu, nasib jadi orang baru.
Tapi tadi ada serunya juga pas audisi gitu, audisi siapa yang mau ngerjain tugas kita haha…
Jadi, kita itu disuruh dengan semena-menanya oleh seseorang nulis sederetan angka yang banyak banget. Ih males en capek banget itu. Makanya tadi aku, Nadia dan Ani berinisiatif buat diupahin aja ke orang haha, banyak duit kite.

Eh sebenarnya intinya aku ga mau cerita tentang itu.
Jadi, tadi di saat aku lagi asyik video call ma orang rumah, nah ada telepon masuk dari nomor tak dikenal, kayanya sih nomor Jakarta.
Apakah Yun? Eh tapi kan dia lagi prajab, ngapain nelpon pake nomor kantor.
Orang nawarin asuransi atau kartu kredit kayanya nih.
Dengan malas aku terima, gayanya emang kaya sales kartu kredit.
Disana: Selamat sore
Aku: Iya Sore
Disana: Dengan Ibu Mujaiyanah
(ih sok2 tau nama gue lagi)
Aku: Iya bener
Disana: Ini dari pusdiklat Bogor.

Jegreng…
HUWAAA…
Ini kan telpon yang aku tunggu2.

Ternyata mereka minta nomor fax en Email kantor buat ngirim undangan.
Horrayyy akhirnya, perjuangan beberapa bulan ini.

Aku ga yakin dengan nomor fax dan alamat Email yang kuberi. Jadilah aku nelpon Ibu Kasubag Kepegawaian.
Dannn… Beliau sepertinya kurang suka. Hiks…

Aku jadi worry…
Apalagi aku tak punya siapa2 di kantor.
Harapanku pun sangat tipis untuk bisa pergi.
Padahal aku sudah bela2in buat dapat kuota diklat itu. Mengalahkan puluhan pesaing se Indonesia.
Aku jadi membayangkan hal2 buruk seperti undangan itu diacuhkan, tidak disampaikan padaku, atau malah diberikan jatah kepada orang lain.
Hiks…

Aku perlu diklat itu.
Kupikir tadi momennya pas banget. Aku sudah bete banget dengan orang2 sok ngatur di Lab.
Aku ingin pergi dari sana.

Ya Allah semoga aku bisa segera diklat itu.
Semoga semuanya dimudahkan dan dilancarkan.
Semoga yang terbaik.
Aamiin.

Advertisements

Leave a comment »

I’m Yours

Aku takut.
Bahagia.
Dan berbagai perasaan lain.

image

Cinta sejati.
Mencintai tanpa henti.
Walau waktu terus berlari.
Pernahkah kalian seperti itu?

Suka seseorang hingga tak melirik ke yang lain.
Mencintai seseorang dan menutup pintu untuk yang lain.
Aku pernah.

Dia membuatku merasa hanya ada satu lelaki di dunia ini yang berhak mendampingiku.
Dia menutup perasaanku hingga tak ada lelaki lagi yang menarik di dunia ini.
Dia yang membuatku yakin bahwa sendiri saat ini lebih baik.
Demi dia, untuk menunggunya.

Setelah 4 tahun berlalu, dimana 2 tahun kuhabiskan untuk mencarinya dan 2 tahun berikutnya berusaha melupakannya.

Aku sudah ikhlas.

Dan dia hadir.
Tanpa dicari, tanpa disangka, tanpa appoinment.

Sgala memori yang sudah terkubur itu pun muncul lagi ke permukaan.
Dia masih sama.
Seperti yang dulu.
4 tahun tak mengubah apapun.

Aku senang. Senang sekali.
Bahkan Ina pun katanya ikut senang.

Tapi aku takut.
Aku takut dia hadir untuk pergi lagi.
Aku takut Tuhan hanya mempertemukan bukan untuk mempersatukan.

Kami pernah bertemu, kemudian berpisah.
Lalu apakah sekarang kami dipertemukan untuk dipisahkan lagi.
Aku yakin Tuhan tidak sebercanda itu.

Leave a comment »

Waiting My Prince

Tadi itu habis nonton acara TV “melamar”. Cowonya melamar cewenya dengan dia nyelam di akuarium raksasa dan cewenya menyusuri lorong akuarium sambil membaca note yang dipegang cowonya dari dalam air sana. En klimaksnya tentu saja tulisan “will you marry me?”
Aduh itu kata2nya banyak banget yang sweet. Aku juga pengeeen…

Sebagian orang memang punya pendapat berbeda tentang reality show, ada yang menganggapnya lebay bahkan mengatakan itu hanya settingan.
Dampaknya bagi aku sih, aku jadi suka ngayal lagi. Mendambakan hal2 romantis itu terjadi padaku. Dan orang2 pasti akan bilang itu hanya ada di tipi Jay, tidak ada di kehidupan nyata, bahkan kalau di reality show pun semua itu di setting.

Nah, kalo memang itu semua bisa di setting, bukan tidak mungkin kan ada seseorang yang mau men’setting itu untukku??

Bermimpi itu harus setinggi-tingginya kan?
Masih menantikan kamu pangeranku 😘😘😘
image

Leave a comment »

I Love U Mom

Itulah kenapa aku tak suka pertemuan karena pasti akan ada perpisahan.

***

Dari beberapa minggu yang lalu Mama sudah kasih tahu bahwa Mama akan ke kotaku dalam rangka ziarah bareng ibu pengajian RT. Awalnya aku niat pengen ketemu Mama tapi kemudian aku takut sedih lagi.
Setiap ketemu Mama slalu ada euforia kebahagiaan luar biasa yang harus diimbangi juga dengan rasa kehilangan serta kesunyian setelahnya.

“Oke Ma, anakmu tak akan menemuimu.”
Aku sudah kasih tahu ke Mama.

“Oh gitu… Jadi Mama gak usah bawa apa2 ya nih kesana” Ada segurat kecewa dari kata2 Mama.

Dan pas hari H, Mama terus menghubungiku seolah ingin aku menemuinya.
“Ini Mama bentar lagi nyampe loh”.
“Ohhhh iya Ma”
Aku sambil berpikir ini jadi pergi ato ga. Berhubung sekarang ada Abah di rumah jadilah aku ajak Abah, eh Abah ga mau. Panas banget en ngapain juga kesana katanya.

Oke, mungkin memang ga usah kesana, pikirku.

Mama nelpon lagi, “Kamu dimana?”
“Di rumah Ma”
“Loh kok di rumah?”
“Iya aku gak kesana Ma. Mama ga usah nungguin aku”
Mama diam. Telpon dimatikan.

I guess that’s okay.
Kupikir semua sudah selesai. Tapi ternyata saat aku telpon mama esoknya.

“Anak2 lain banyak lo yang datengin Mamanya. Orang2 juga pada nanyain Mujay mana kok ga ada. Mama bilang aja masih di jalan tapi kamu ga dateng2. Padahal Mama bawain sayur ma kue. Di pinggir pantai juga ada sate enak banget. Mama sudah bayangin kita santai di pinggir pantai”.

Nyeess… Itu rasanya jleb banget. Menusuk sampe ke tulang. Aku menyesal semenyesal-menyesalnya.
Mama, maafkan anakmu ini sudah membuatmu kecewa.

Saat itu keadaannya benar2 hectic, air ga ngalir, gas habis, telur habis, Abah sakit.
Masih aja ya gue nyari alibi.

Intinya Mama i love you.

image

Leave a comment »