Menjadi PNS (4)

Ucapan selamat datang bertubi-tubi. Sedang aku masih bingung harus bagaimana.
Apalagi ternyata kehidupanku jadi tidak tenang setelah itu. Ada terlalu banyak berkas yang harus dilengkapi dalam hitungan hari. Mana lagi saat itu cuti bersama Natal dan hari Jumat yang begitu pendek.

Untungnya ada Ayu yang menemaniku, makasih Yu moga kamu cepat lulus juga ya…
Hari Kamis aku ke semua sekolahku untuk melegalisir ijazah. Andai saja kantor tidak tutup, semuanya bisa beres hari itu juga.
Hari Jumat aku ke Rumah sakit, kantor polisi dan kampus. Juga mengurus kartu keluarga karena namaku salah. Ada mama yang membantu dan berbagi tugas.
Rasanya hectic so badly.

Hari Sabtu aku ke kampus lagi mengambil legalisir, ada beberapa yang tidak ditandatangani. Ya sudahlah asalkan cukup saja.
Siangnya aku langsung berangkat ke Tanbu. Abah dan mama mengantar hingga aku pergi. Aku merasa terlalu berlebihan perhatian mereka. Aku sudah dewasa. Iya, aku aneh. Pasti ada orang yang iri melihat aku begitu disayang tapi aku malah merasa jengah untuk hal yang harusnya kusyukuri.
Beberapa hari ini aku memang merasa mama ekspresi bahagianya terlalu berlebihan. Aku… aku tidak tahu harus bagaimana. Aku justru sedih harus meninggalkan rumah ini dan pindah ke kota lain.

Hari Minggu aku sibuk menulis lamaran dan menyiapkan berkas. Motokopi dan nyetak foto di tempat Ka Ari.
Esoknya aku sudah curiga sesuatu akan terjadi. Upik yang janjinya akan mengantarkanku tiba2 ada rapat. Katanya nanti siang dia menemaniku. Eh ujung2nya gak bisa juga.

Akhirnya Ka Ari lah yang menemaniku. Makasih banget buat Ka Ari dan Ka Nisa yang membantu dari awal.
Ka Ari ngebut banget bawa motornya. Aku tiba2 jadi mual dan pusing. Iya, perasaan seperti yang biasa kurasakan saat naik mobil. Aku ingin menyerah.
Jujur, mulai dari menyiapkan berkas kemarin aku sudah ingin menyerah. Tapi aku merasa semua begitu ironis, posisiku yang begitu diinginkan orang, yang diucapkan selamat oleh puluhan orang, apa harus aku lepaskan begitu saja? Apa aku harus menyerah sedang aku sudah berjuang sejauh ini?
Aku pun menahan diri. Kutahan rasa sakit kepala dan semua kesakitanku. Aku terus berdoa minta dilancarkan semuanya.

Dan… sesampainya disana alhamdulillah sangat sangat lancar. Tidak ada hal yang kurang atau perlu diperbaiki.
Kami segera pulang. Saat ini aku sangat ingin istirahat. 5 jam perjalanan ini sangat melelahkan.
Ka Ari bawa motor lebih laju lagi. Aku ngeri tapi aku juga ingin cepat sampai.
Di rumah, nyatanya aku tidak bisa istirahat karena kami ke Kuranji siang itu. Malamnya menghadiri MTQ. Aku rasanya kehabisan energi.

Esoknya aku pulang pagi2, aku ingin rumah, aku ingin berhenti dan melepas lelah dan penatku.
Aku ketemu supir yang mengantarku pulang dulu dan mengucapkan terimakasih. Rasanya ingin mengucapkan makasih pada semua orang yang telah membantu dan mendoakanku.
Dan entah kenapa aku ingin sekali menghubungi seseorang, bercerita tentang hidupku. Tapi seseorang itu tak dapat kugapai lagi.
Ada begitu banyak hal yang harus kupikirkan lagi, rumah untuk di Tanbu nanti, motor, dan semua kehidupan di masa depanku.
Akhir2 ini semuanya begitu lancar dan dimudahkan, doaku juga begitu cepat dikabulkan. Semoga ke depannya lebih baik lagi, mudahkan semuanya Ya Allah…
Sekarang tinggal menunggu dan menikmati masa2 di Martapura, karena 10 tahun ke depan aku harus tinggal di kota lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: