Archive for January, 2014

My BFF : Ina

Aku masih ingat dengan jelas kejadian itu. Saat itu jam 10 malam. Aku dan Ina sudah siap2 untuk tidur.
Kebiasaan sebelum tidur adalah utak-atik hp, buka fesbuk, buka twitter, bacain RU bbm. Dan… ada status temenku tentang kebakaran di… gang rumahku.
Langsung aku shock dan bbm dia, menanyakan kebenarannya. Dan katanya memang benar, api berkobar sangat dekat rumahku.
Aku gugup, aku pun menelpon mama. Di ujung sana mama repot banget jawabnya, kedengaran hectic en crowdednya, sambil teriak en nangis jadi satu. Tentu saja aku makin worry.
Aku harus bagaimana? Aku diam. Rasanya ingin menangis juga. Sesuatu terjadi di sana dan aku di sini tidak dapat berbuat apa2.

Ina mendengar percapakanku di telpon tadi dan dia bertanya ada apa. Kukasih tahu apa yang terjadi.

Ina : Lalu kamu mau bagaimana?
Aku : Aku ragu Nuu.. Terus tinggal disini tapi tidak tenang, ingin kesana tapi sudah malam.
Ina : Sini aku temenin.
Aku : Beneran Nu kamu mau nemenin?
Ina : Iya, ayo kita siap2.

Kami segera bersiap dan melaju menuju Martapura. Jalanan sangat sepi sekali. Sepanjang jalan aku diam dan berdoa, semoga tidak terjadi apa2 di sana. Aku juga merasa berterimakasih sekali Ina mau menemaniku. Sungguh aku tidak bisa terus disana dengan segala kekhawatiranku.

Akhirnya kami sampai walaupun sempat salah jalan gitu. Faktor sudah malam dan mata mengantuk mungkin, apalagi tadi sudah hampir tertidur.

Di jalan menuju rumahku sesak orang2. Ada pemadam, orang mengangkut barang, bahkan orang yang sekedar ingin menonton.
Kami berusaha menerobos orang2 itu. Finally sampe rumah. Alhamdulillah masih aman. Sungguh aku tidak dapat membayangkan, rumahku yang baru direnovasi harus musnah.
Aku bersyukur masih diberi keselamatan. Di gelap2 karena listrik padam aku dan Ina melihat ke TKP, api sudah berangsur padam. Tinggal ada beberapa titik api.
Setelah itu kami pulang. Dan ketika semuanya sudah tenang aku dan Ina pun tidur. Ya kami terpaksa menginap di rumahku.
Esoknya pagi2 kami kembali ke Banjarmasin.

201020111576jk

Itu salah satu momen yang kuingat bersama Ina. Walau masih banyak lainnya.
Makasih Nuu sudah mau diajak kemana saja selama ini haha…

Advertisements

Leave a comment »

I’m Hypotension

Rabu, 22 Jan 2014
Aku tidak tahu bagaimana awalnya tapi yang pasti sejak saat itu hidupku tak tenang. Aku tidak bisa tidur dan semuanya jadi tak nyaman.
Rasanya sakit kepala yang luar biasa. Aku juga sempat berpikir kenapa Allah memberikanku penyakit seperti ini di saat aku ingin dekat denganNya.
Aku merasa Allah tidak adil, iya aku salah karena sudah ber’suudzon pada Allah.
Di salah satu malam aku ditemani Ayu dan dia memberi beberapa saran, ya lumayanlah agak berkurang.
Semoga sakit ini bisa jadi penggugur dosa2. Amin.

Kamis, 23 Jan 2014
Kedinginan di saat yang lain kepanasan, what’s wrong with me?
Aku pun periksa ke klinik. Aku sudah merangkai kata apa saja yang ingin kukeluhkan. Tapi… belum aku ngomong apa2 dokternya sudah tau dari muka pucatku yang tidak ada 1 orang pun di rumahku menyadarinya. Dan ternyata…. aku hipotensi. Tekanan darahku cuma 80/60. Sangat rendah bukan, makanya aku mengalami pusing kronis.
Sejak hari itu aku rajin makan sayur dan makanan yang bisa menaikkan tekanan darah. Juga minum obat dari dokter, tapi tetap saja tidak sembuh malah makin sakit. Hari ini aja aku tidak bisa beraktivitas seperti biasa, aku cuma rebahan sambil menahan sakit kepala. Tak peduli berapa puluh kali bunyi bbm, sms dan telpon. Aku tidak bisa bangun.

Jumat, 24 Jan 2014
Bangun pagi dengan kepala sakit, lebih tepatnya sih aku tidak bisa tidur malam tadi. Jadi aku begitu ingin cepat pagi. Ah rasanya lama sekali, setiap aku lihat jam sepertinya tidak berjalan.
Akhirnya jam 5 pagi aku turun ke bawah, minum bodrex dan sholat subuh. Paginya seperti biasa kalau aku sakit mama akan memijat kepalaku dan membelikanku sarapan.
Selalu merindukan saat ini, tapi bukan berarti aku senang sakit yaa… Selalu merasa lebih nyaman kalau diperhatikan mama.
Siangnya aku minum bodrex dan sakit kepalaku pun berkurang hingga sore. Malamnya aku minum obat dari dokter lagi dan… aku tidak bisa tidur, kepalaku sakit kembali.Aku putuskan untuk berhenti minum obat dari dokter dan mengkonsumsi Bodrex. Aku lalu teringat kalo sang Dokter itu kan sebenarnya Bidan, apa jangan2 dia salah kasih aku obat? Haha… gimana mau sembuh ya.. kalo ma dokternya aja aku prasangka buruk.
Kapan? Kapan? Kapan berakhirnya? Aku sudah sangat lelah Tuhan…

Sabtu, 25 Jan 2014
Ya Allah sakitnya gak sembuh2…
Aku datang ke tukang pijat, tapi ternyata orangnya ke Banjarmasin… Huwa… aku pikir hari ini aku akan mengakhiri rasa sakit ini. Tapi… sepertinya malam ini aku harus siap tersiksa lagi.
Sebelum tidur aku minum bodrex, eh alhamdulillah aku bisa tidur nyenyak.
Oya, Om Iful tadi bilang sesuatu “Kamu tau kenapa orang dikasih sakit? Itu untuk menghapus dosa2 di masa lalu”.
Sungguh kata2 itu cukup bisa membuatku tenang dan berpikir positif. Ya, tidak seharusnya aku terus mengeluh dengan penyakitku ini, ini justru tanda Allah masih sayang padaku.
Semoga cepat sembuh *ngomongmadirisendiri.

Minggu, 26 Jan 2014
Aku jadi pijat, dan rasanya agak mendingan walau kepala masih sakit. Aku pun minum Bodrex lagi, jadi kecanduan obat hiks…

Senin, 27 Jan 2014
Aku “bepidara” ke tempat nini. Juga merasa lebih nyaman, ya mungkin sugesti aja.
Aku agak kecewa sih pas pagi tadi ke klinik ternyata tutup, padahal aku kan sudah pengen banget tahu perkembanganku. So, sore ini aku periksa tensi darah sama Dina. Hasilnya cukup menyenangkan ~ 100/70. Walaupun yah bisa aja sih beda alat beda hasil. Tapi aku jadi merasa lebih baik setelah itu.

Sembuh sembuh sembuh sehat sehat sehat…

Tadi juga ada Bu Asnah yang ngajak aku periksa ke Mantri, tapi aku kan sudah periksa ke dokter klinik, nanti dobel dong obat yang harus kumakan. So aku tolak deh.

Selasa, 28 Jan 2014
Aku periksa lagi ke klinik. Cerita tentang semua keluhanku. Ya aku kadang masih sakit kepala sih, but overall aku sudah sembuh.
Si Bidan yang merangkap jadi dokter itupun menyarankanku beli Vitamin B kompleks tapi karena kucari di apotik habis (padahal baru mendatangi 1 apotik haha) maka aku putuskan untuk say no more to obat. Ohya, tensiku 85/60, dikit banget naiknya hiks… Tuh kan beda ma punya Dina.

Rabu, 29 Jan 2014
Setelah mencoba berbagai usaha dan cara pengobatan, mulai dari periksa dokter, dipijat mama, minum obat sendiri, dipijat tukang pijat, bepidara akhirnyaa… alhamdulillah aku sudah sehat.
Terimakasih Allah, terimakasih Mama yang slalu menemaniku, terimakasih acil uwai yang juga turut serta menjagaku, terimakasih semuanyaaa…

Cukup seminggu aku merasakan sakit itu, sekarang aku harus lebih aware dan care sama badanku sendiri.
Oya, dan anehnya slama aku sakit, si Imin gak pernah tidur di kamarku. Mungkin dia merasakan hawa2 penyakit gitu kali yeee haha…
Sekarang pas aku sudah sembuh, tuh si Imin lagi tidur dengan nyenyaknya di kakiku.

Jadi mulai sekarang aku harus :
1. Makan makanan yg bisa meninggikan darah, seperti daging, sayur, telur, kopi, dll
2. Makan teratur dan lengkap
3. Lebih banyak berolahraga
4. Istirahat yang cukup

Lebih baik mencegah daripada mengobati.

Leave a comment »

Buah dan Bintang

Aku dan Dinda sedang santai menikmati gegodoh tiwadak. Sambil makan kami pun ngobrol.

Dinda : Enak ya… Beli dimana?
Aku : Di pasar sejumput. Kemarin aku beli juga, hari ini beli lagi..
Dinda : Kenapa gak beli buahnya aja sih di Atiim sana?
Aku : Belum berbuah keuleeuss
Dinda : Lah? Kok belum? Yang lain sudah…
Aku : Bisa aja kaleee..
Dinda : ( muka bingung)
Aku : Misal ya kamu punya pohon mangga, kalo misal satu berbuah, kan gak berarti semuanya akan berbuah. Ada yang berbuah bulan Januari, Februari, Maret, dst…
Dinda : Kalo berbuahnya bulan November berarti bintangnya Sagitarius donkk…
Aku : #jleb (kemudian hening)

Leave a comment »

Tentang Dia

Memang benar ya… Puncak dari suka itu adalah saat tidak suka lagi.

Aku pernah… suka yang menggila padanya. Aku pernah meluangkan seluruh waktuku hanya untuknya. Aku pernah merasa sangat bahagia hanya karena deretan reply bbm darinya.

Ya, aku pernah mengalami semua itu.

Dan akhirnya semua sampai pada puncak dari rasa suka itu. Dia ke rumah, kenalan dengan Mama. Kami makin akrab, makin kenal, makin dekat.

Dan kemudian aku tidak suka lagi dengannya.

I think memang begitu prosesnya.
Suka ~ sangat suka ~ tidak suka.

***

Aku tidak sedih, aku tidak kehilangan. Mungkin karena aku yang memutuskan. Karena aku yang menginginkan.

Sama seperti dalam sebuah tabrakan, si supir biasanya tidak terluka parah. Yah mungkin karena dia sudah siap, dia sudah tau apa yang akan terjadi, karena juga dia yang mengendalikan.

Itulah yang kualami. Aku lega, aku tenang. Aku merasa sangat senang melepaskannya.

Leave a comment »

Perpisahan

Aku sebentar lagi akan pergi ke Tanah Bumbu. Akan tinggal disana jauh dari orangtua. Rasanya ingin terus menikmati kebersamaan ini. Apalagi pas aku sakit kemarin, mama ngerokin aku. Sedih rasanya mengingat nanti aku disana akan sendiri.

Bukan itu saja, sepupuku Dinda dan Ifan juga akan segera pindah ke Jorong. Sediiihhh…. kasian Mama juga akan kesepian. Apalagi Mama bilang “mama sudah pernah merasakan perpisahan itu, sedih banget baru bisa ketemu 1 atau 2 tahun sekali”.
Iya, mama dan saudaranya jauh2. Acil Dalim di Palangkaraya, Ulak Enong di Sebamban.

Kelak aku dan sepupuku juga seperti itu, kami terpisah dan baru bisa bertemu entah kapan waktunya. Semoga dimudahkan.

Leave a comment »

Sebuah Kabar

Barusan nonton TV, ceritanya sepasang suami istri sedang khawatir karena anak semata wayangnya belum pulang. Tiba2 di Televisi ada berita kecelakaan dimana ciri2nya sangat mirip dengan anak mereka,  langsunglah kedua suami istri itu heboh. Kemudian para tetangga datang. Semua orang bersedih karena mengira sang anak mengalami kecelakaan. Tidak berapa lama sang anak datang. Ternyata si anak tadi mampir dulu di tempat temannya.

Kejadian yang sama kualami kemarin, abah kutunggu sampe Magrib tidak pulang. Aku khawatir terjadi sesuatu. Eh pas datang ternyata abah mampir di tempat pamanku dulu katanya.

Dari kedua cerita di atas, cuma ingin mengambil kesimpulan. Betapa pentingnya memberi kabar. Iya, di jaman sekarang dengan mudahnya kita bisa sms atau telepon orang di rumah kalau kita terlambat pulang.
Just want to share it.

Leave a comment »

Memperpanjang SIM

Tepat di hari ulangtahunku kemarin, sim ku mati. Sebenarnya ga niat langsung perpanjang sih, tapi Adit nawarin bantuan, jadi ya udah langsung aja ku urus. Oya, Adit itu teman smp ku.

Jam 9an aku ke fotokopian samping polres, motokopi beberapa berkas disitu sambil nunggu Adit. Mana motokopinya antri lagi, gimana kalo Adit datang, kan ga enak nyuruh dia nunggu. Tapi sampe aku selesai motokopi si Adit ga muncul2. Kemana ye dia? Gak berapa lama dia nelpon dan nyuruh aku ke ruang tes kesehatan. Omo… aku kira habis motokopi langsung kasih ke Adit, haha mau instan banget yah gue. Oke deh aku kesana. Sempat bingung juga karena ada orang yang ngasih info salah, katanya aku harus ke polres dulu baru kesitu.
Untung Adit segera datang, aku tes kesehatan bayar 30rb. Terus aku kasih deh berkasnya ke Adit. Katanya biayanya 75rb, aku kasih Adit 100rb dan dia tidak ada kembalian. Ya udah nanti aja kataku.

Setelah itu aku pulang ke rumah, kata Adit nanti aku balik lagi kesana jam 4 buat foto. Eh tiba2 dicancel jadi jam 12. Mana aku kan ga ada motor, dagdigdug deh nunggu abah apa bisa atau ga nganterin aku.
Jam 12 kurang aku ke polres. Lagi2 bingung haha… Akhirnya nanya ke loket pendaftaran dan katanya tunggu bentar. Gak berapa lama namaku dipanggil dan akupun masuk ke ruang foto.
Sudah ada orang disana, setelah bapak itu selesai aku pun maju buat di sidik jari dan foto.
Tapi…. jariku tidak bisa terdeteksi, kata polisinya tanganku basah.
Polisi : Lap dulu tangannya mba
Aku : Lap? Pake apa? (Bingung karena lupa bawa tisu dan disana juga sepertinya tidak ada tisu)
Polisi : Gosok2kan di celananya tuh mba
Aku : (langsung menggosok2kan tangan ke celana, setelah beberapa saat lalu disuruh polisi sidik jari lagi)
Polisi : (mencoba menyidik jari tanganku beberapa kali tapi gagal terus)
Dengan wajah lemas dan mengangkat tangan polisi berkata “saya nyerah mba, mba tunggu aja dulu disana, saya sidik yang lain dulu”.
Aku pun pindah posisi, sambil mengamati ada apa dengan jariku. Sambil duduk aku terus ngelap tanganku dengan kerudung, memang agak basah sih tanganku. Aku melihat beberapa orang yang sidik jari dengan lancarnya. Ada apa denganku??

Yang lebih membetekan lagi kenapa tuh polisi tidak kasih jalan keluar. Malah ngomel en menyerah. Bete banget liat muka polisinya itu, masih muda sih jadi ga pengalaman kaleee…
Sempat terbersit apa dia sengaja ya ngerjain aku haha… Dia suka kali ma aku wkwkwkwk…. Malah kata Ayu jangan2 itu surprise ulangtahun, tapi kutunggu lama tidak ada juga tuh yang muncul sambil bawa kue dan lilin haha…
Aku ingin sekali sms Adit dan menceritakan semuanya, tapi baru aja aku ketik, Adit nelpon menanyakan aku dimana. Tak berapa lama dia datang, aku ingin cerita tapi gak tega juga. Sebelumnya aku juga ingin nulis di twitter bahwa pelayanannya payah, tapi ga enak juga ma Adit yang sudah bantu. Dia kasih uang 50rb, katanya ga ada kembaliannya jadi sudah ambil aja. Dan juga berkata bentar lagi selesai kok tunggu aja yaa…
Nyatanya aku menunggu lamaaaa sekali di dalam sana. Bapak2 dan cowo2 setelah aku sudah keluar lebih dulu. Kenapa hanya aku yang cewe ya? Apa karena aku cewe jadi polisi itu segan memegang tanganku, bukan muhrim haha…

Aku terus memandang dengan tatapan tajam dan kecewa ke polisi itu. Dia terus menyidik jari orang2 yang baru datang, sedang aku kapan? Kapan giliranku? Aku kira tadi cukup 1 orang saja yang didahulukan, tapi kenapa tidak ada tanda2 aku akan disidik jari? Karena merasa tidak nyaman terus kupandangi, akhirnya dia berkata “kamu nanti sama Bu Umi aja yaa…”. Saat itu jam istirahat, jadi polisi wanitanya ga ada. Terus aku harus nunggu sampe selesai istirahat donk.
Aku takutnya abah khawatir aja di luar. Karena orang2 sudah keluar tapi aku ga keluar2, jangan2 abah mengira aku ditahan polisi haha…

Akhirnya Bu Umi datang, aku gugup. Bagaimana kalau gagal juga? Untungnya semua mengalir lancar. Ga ada tuh kesulitan kaya tadi. Berarti emang polisinya aja tuh ga bisa. Bu Umi ini sambil melayani sambil ngobrol ma temannya *sigh. Jadi lama aja dah gue diprosesnya.
Pas keluar dari ruang foto, sudah sepi aja. Orang2 sudah pada pulang. Aku nunggu sebentar, tapi sepertinya sim ku lama baru selesai, aku pulang juga deh. Sebelum pulang, mampir dulu foto2 di tulisan Martapura haha…

Sorenya aku males banget balik ke polres. Adit sms menanyakan simku sudah selesai apa belum? Kujawab aja belum. Gak berapa lama dia sms, simnya sudah disimpankannya.
Esoknya males juga ke polres, esoknya hujan, esoknya males lagi. Akhirnya Sabtu baru aku mau ngambil simku. Ternyata Adit lagi di rumah sakit, anaknya sakit katanya. Tapi ku ubek2 tuh rumah sakit ga ketemu juga ma Adit.
Finally hari Minggu Adit yang nganterin simnya ke rumah. Makasih ya Dit atas bantuannya, maaf ngerepotin, mana harganya di diskon lagi haha…

Leave a comment »